kehidupansehari-hari. Ice Breaking 2. Inti a. Guru meminta peserta didik memahami informasi dengan membaca materi ajar yg dibagikan/mendengarkan penjelasan guru tentang Teks Descriptive. b. Bertanya jawab mengenai isi bacaan tentang Teks Descriptive. Peserta didik mendengar apa yang disampaikan guru dengan memperhatikan materi pada power point. d.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Lena Sa'yati, Sekolah Tinggi Pesantren Terpadu STPT Condong lenacinta Judul Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti Genre Religi Durasi 90 menit Sutradara Lena Sa’yati Skenario Tim matapena Rayon Tasikmalaya Pemain Wafda, Elif, Rini, Yuni, Lidini, Agnes, Muna, Noverita Mustika Produksi Matapena Tasik in Association with Lingkar Kreatif Sinopsis Film ini diangkat dari buku berjudul sama, karya anggota Matapena Rayon Tasikmalaya Ponpes Riyadlul Ulum Wadda’wah. Bercerita tentang seluk beluk romantika kehidupan santri dan santriwati di sebuah pondok pesantren. Dalam film ini terdiri dari beberapa judul dengan cerita yang berbeda-beda. Diantaranya; Language is Our Crown, No Gosob!, Pepping? No way!, Belanja Sambil Beramal, Blezzer, dll. Dalam Language is Our Crown misalnya, seorang santriwati bernama Linta kerap menjadi pelanggar bahasa, hingga namanya disebutkan beberapa kali dalam pengumuman pelanggar bahasa. Akhirnya dia diberi hukuman untuk memakai kerudung pelanggaran selama satu hari. Sejak saat itu, beberapa temannya mulai menjauhi dan mencemooh dirinya, tapi sahabat sejatinya Ilya selalu memberi semangat dan motivasi sehingga Linta mencoba untuk giat belajar bahasa dari buku-buku bahasa yang ada. Dari hari ke hari bahasa Linta mulai membaik, hingga akhirnya, namanya tak lagi tertera dalam daftar para pelanggar bahasa. Maksud bahasa disini adalah dua bahasa asing arab dan inggris, karena di ponpes ini, memakai kedua bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari adalah wajib hukumnya, maka jika ada salah satu santri yang keahuan tidak berbahasa resmi, sudah dipastikan mendapat hukuman dari bagian bahasa. FYI, Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti merupakan film perdana yang dibuat santri Ponpes Riyadlul Ulum Wadda’wah bekerjasama dengan rumah produksi Lingkar Kreatif. Bermula dari buku karya anak klub sastra matapena, merekapun ingin lebih memvisualisasikan isi dari buku yang mereka buat, agar pesan yang terkandung dlam buku tersebut lebih mdah diterima oleh khalayak umum. Pada intinya, film ini berusaha mengangkat kehidupan para santri yang snagat jarang sekali terekspos media. Film ini ingin menunjukan, bahwa memilih hidup di pesantren merupakan sebuah keputusan untuk menjadikan hidup ini lebih berarti. Disajikan dengan cerita-cerita ringan dan menghibur, dalam film inipun para pemain menggunakan dua bahasa asing dalam setiap percakapannya. Inilah yang membuat film ini beda dari film-film indonesia lainnya. Pesan yang tersirat dari setiap ceritapun lebih nyata dan tampak real, karena setiap cerita di akhiri dengan pesan nasihat. Seperti dalam Language is our Crown, di akhir cerita tertulis nasihat ; Language is not lesson, but language is habit’ Brave to try, never give up, speaking, speaking, and speaking’. Selain cerita, dalam film inipun disajikan sebuah infotainment bernama Laa Ghibah’ yang dibawakan oleh presenter kocak namun menyajikan berita-berita yang sarat akan makna, begitupun dengan narasi yang dibacakannya. Menonton film ini dijamin tidak akan jenuh, karena dari setiap cerita, selalu ada hal-hal yang menarik yang berbeda, dan lain dari yang lain. [Lena] Beberapa adegan dalam film Hidup Sekali Hiduplah yang Beararti Itulah beberapa adegan dalam film HSHYB. pastinya penasaran kan sama para pemainnya yang kelihatan total banget berakting di film ini. Yup, kami memang sengaja mempersembahkan para pemain yang sekiranya berbakat dlam seni akting. Tidak perlu ada casting formal, kami cukup melihat aksi mereka dalam Lomba Drama Bahasa Inggris, maka langsung saja kami gaet anak-anak berbakat ini. Ini dia beberapa pemain utama dalam film HSHYB. Wafda Fahrunnisa Wafda fahrunnisa berperan sebagai Linta dalam judul 'Language is Our Crown'. Semula langganan menjadi pelanggar bahasa, lalu bangkit menjadi mahir berbahasa. Elif Alifah Berperan sebagai Laura dalam judul 'No Gosob!'. Laura adalah anak yang selalu menjadi korban penggosoban. Dibantu temannya Sinta, Ia berhasil menyadarkan orang yang menggosob barangnya. Rini Iswanti & Yuni Latifatun Nisa Rini berperan sebagai Nada, dan Yuni berperan sebagai Sella. Mereka bermain dalam judul 'Alunan Nasyid dan Dakwah'. Semula selalu tidak akur, namun lama-lama bersatu karena satu tim dalam nasyid. Muna Wafa Fikria Muna berperan sebagai Muna dalam judul 'Ummu Naum'. Muna dijuluki Ummu Naum lantaran selalu tidur dalam situasi apapun. Namun akhirnya Ia berubah dan malah teman yang selalu mengejeknya yang jadi Ummu Naum. Agnes Sustine Agnes berperan sebagai Sisil dalam judul 'Pepping? No Way!'. Di sini Sisil berwatak centil, suka mengintip cowok, sampai akhirnya Ia bertubi-tubi kena musibah pada waktu mengintip. Akhirnya Ia tobat, dan tidak akan mengulangi aksi pepping lagi. Lidini Hanifa Lidini berperan sebagai Lidini dalam judul 'Belanja Sambil Beramal'. Semula tidak mau belanja di Unit Usaha milik Pondok dengan alasan selalu antri, tapi semenjak dijewer dan dinasihati Keamanan, akhirnya Lidini mencoba untuk belanja di Mini Market Pondok. Sebagai presenter kocak, Noverita membawakan acara dengan tidak membosankan, agak-agak mirip dengan pembawa acara infotainment Silet, hanya saja tema berita berisikan liputan tentang kehidupan para santri beserta kegiatan-kegiatan wajibnya. Behind The scene Proses syuting berjalan selama 4 hari, dari hari jum’at sampai hari senin pagi. Sebenarnya kami menargetkan waktu hanya dua hari saja, namun karena banyak hal-hal yang tak terduga terjadi pada saat proses syuting, alhasil waktupun ngaret sampai dua hari. Dari mulai diguyur hujan, ada salah satu kru yang terluka saat take gambar, ada yang sampai nangis-nangis, kameramen lupa tidak membawa lampu sampai kami harus beribut mencari lampu neon kesana kemari, dan lain sebgainya. Tapi actually semuanya berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Sebenarnya pembuatan film ini bisa dibilang cukup singkat, karena kami harus menyesuaikan deadline waktu dengan kedatangan penulis nasional Ahmad Fu’adi. Rencananya kan film ini akan di launching pada waku bersamaan. Maka sayapun bergegas mengumpulkan anggota matapena untuk segera membuat naskah cerita. Setiap orang ditugaskan membuat satu script dan bertanggung jawab untuk mengcasting sendiri para pemainnya, menentukan kostumnya, menyipakan settingnya, dan menentukan siapa penerjemah naskahnya. Namun sebelum itu, saya bertugas untuk mengedit terlebih dahulu kelayakan dari naskah mereka. Dalam tempo tiga hari, naskah selesai beserta translate-nya. Dan para pemain hanya diberi kesempatan untuk reading, dan menghafalkan naskah dalam kurun waktu satu hari dua malam saja! Wow, apa tidak gila! Beruntung mereka sudah terlatih dengan seringnya diselenggarakan drama bahasa arab dan inggris, jadi tidak terlalu sulit untuk menggodok mereka dalam menghafal naskah. Latihan gladi bersihpun kami laksnakan semalam sebelum besoknya kami mulai syuting. Fiuh, benar-benar melelahkan, memang. Kami baru selesai latihan pukul malam, setelah itu para krew masih harus mempersiapkan properti yang akan digunakan syuting, latar tempat, kostum, dan lain sebagainya. Alhasil kami begadang semalaman, dan baru bisa tidur pukul pagi untuk kemudian subuh-subuhnya harus mengomando para santri agar bersiap siaga di lapangan untuk take gambar pertama. Hari jum’at yang biasanya digunakan para santri untuk mengisi libur dengan kegiatan seperti olahraga, makan bakso bersama, nyuci, dll, kini mereka disibukkan untuk berakting di depan kamera, seperti tampak dalam foto berikut ini Salah satu scene dalam 'Belanja Sambil Beramal' ketika anak-anak berkumpul mengisi waktu libur Scene dalam Belanja Sambil Beramal, menggunakan kolam renang yang belum jadi sebagai setting tempat Hari jumat disulap jadi hari belajar dalam 'pepping? no way!' Yang lucu adalah pengambilan gambar judul Pondok Tak Pernah Tidur, yaitu dengan infotainment Laa Ghibah-nya. Noverita itu sudah dandan dari jam dua siang, tapi mulai take jam 5 sore, haha, kasihan sekali, mana dia dandan sendirian di dalam studio dadakan bertempat di kelas VII C. memang niatnya mau jam 2 siang, tapi karena judul lain take gambarnya belum rampung, alhasil Laa Ghibah di akhirkan dulu. Mau tahu aslinya infotainment Laa ghibah? Before after Wah, gak kebayang hebohnya proses take gambar scene ini. Habisnya presenternya banyak tingkah sih. A Ari sama A Obes aja sampai maksain diri buat nahan biar gak kebablasan ketawa...dan yang paling neybelin, presenternya malah jadi lupa teks total kalau udah di depan kamera, walhasil, saya mesti bersedia nulis teksnya deh dan disimpan dibawah kamera biar presenternya bisa ngintip kalau lupa. Seperti gambar dibawah ini; Wah, negrjain nih pemain, masa sutradara disuruh nulis narasi berita?..fiuh, Tapi it's oke, meskipun agak memakan waktu lama, tapi hasilnya cukup memuaskan apalagi dengan aksi lebay presenternya. Maksudnya sih supaya pesan yang terkandung dapat dengan senang hati diterima penonton. Yang kasihan itu, para script writer. Rencanany kan mereka memberikan prolog dulu sebelum masuk ke cerita, tapi waktu syutingnya di undur-undur mulu. Mereka sampai gagal tiga kali mesti buka kostum lagi. Sampai keempat kali ganti, baru mereka kebagian take gambar, hehe, maaf ya kawan-kawan, memang selalu ada hal tak terduga dalam setiap perjalanan. Tapi akhirnya, selesai juga pembuatan film dengan diakhiri take gambar para scriptwriter. Para scriptwriter setelah selesai take gambar judul 'Pondok Tak Pernah Tidur' di mujappaf Rojul Sebenarnya syuting diakhiri take gambar untuk behind the scene, baru setelah itu kita kumpul bareng krew dan pemain tak lupa juga kameramen dari Lingkar Kreatif di kelas VII C. Dan bersama-sama kami menarik nafas lega, karena proses syuting telah selesai! Yeee...tinggal menunggu hasilnya deh. Wah, lega tak terkira deh kita semua mengucapkan Alhamdulillah karea sudah diberi kesempatan dan kemudahan dalam menjalani proses syuting film HSHYB ini. Finally, we say....ALHAMDULILLAH Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada kedua rekan saya Ratna dan gani yang bersedia menjadi asisten, dan kepada Ustadz Syahruzzaky yang menjadi produser bagi acara ini. Terutama kepada pondok ini yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk ikut mengibarkan potensi demi kebaikan pondok ini. Salam, Lena sa'yati Notes trailernya sudah ada di you tube lho,...teman-teman bisa tengok di Lihat Lyfe Selengkapnya
ContohSkenario Film Pendek. Potongan gambar kegiatan anak-anak sedang membuat mainan dan kerajinan. Kalau untuk scane number biasanya memiliki ukuran margin kiri 10 margin kanan 74 dan margin atas serta bawah mempunyai ukuran 05. Berkat film pendek tersebut George Lucas disebut sebagai sutradara visioner dan menjadi contoh skenario yang hebat.
- Premis Seorang anak lelaki berusia 7 tahun melakukan perjalanan penuh rintangan dengan sepedanya dari desa ke kota untuk membeli sepotong kue sebagai hadiah untuk ibunya yang sedang sakit. Sinopsis Sepotong Kue Untuk Ibu menceritakan bagaimana seorang anak kecil berusia 7 tahun memiliki keinginan besar untuk memberikan hadiah bagi ibunya yang sedang sakit, yaitu sepotong kue dari sebuah toko kue yang sangat terkenal dari hasil uang tabungannya yang ternyata kurang, tapi melihat semangat dan perjuangan anak kecil tersebut demi membahagiakan ibunya, pemilik toko kue terharu, dia merasakan hal yang sama dan kemudian memberikan harga khusus untuk kue yang ada ditokonya agar anak kecil tersebut bisa membeli salah satu potongan kue untuk diberikan kepada IN SCENE 1 DIDALAM RUMAH GILANG DAN IBUNYA PAGI HARI CAST Gilang anak kecil dan Heni ibunya Ibunya berada di kamar terbaring diatas tempat tidur, dan kemudian mulai terbatuk-batuk, Gilang yang sedang bermain dengan mainannya di ruang tamu kemudian bergegas masuk ke dalam kamar ibunya. Gilang Ibu, ibu masih sakit ya? ibu udah minum obatnya? Ibu Ibu ngga apa-apa, obatnya udah ibu minum tadi, gilang udah makan? Gilang Udah bu, tadi aku dikasih sepotong roti sama kakak rita tetangga kita, tadinya gilang mau kasih ibu tapi ibu masih tidur Ibu sambil tersenyum menatap gilang Iya, ngga apa-apa, yang penting gilang harus makan banyak ya biar kuat dan jadi anak yang pintar, kalau begitu ibu boleh istirahat lagi ya, kepala ibu masih pusing, tapi nanti kalau gilang dikasih roti lagi, ibu minta juga dong sambil tertawa dengan gaya bicara bercanda. SCENE 2 DIDALAM RUMAH, KAMAR GILANG CAST Gilang Gilang keluar kamar ibunya dan masuk kedalam kamarnya, kemudian Gilang mengambil celengan tanah liatnya, dan memecahkan perlahan celengan tersebut. setelah itu Gilang mengambil uang receh yang keluar dari celengan. SCENE 3 DILUAR RUMAH CAST Gilang Gilang keluar dari dalam rumah dan mengambil sepedanya kemudian pergi meninggalkan rumah. SCENE 4 JALAN RAYA CAST Gilang dan beberapa orang yang berlalu lalang Gilang mengayuh sepedanya dipinggir jalan raya, dibawah sinar matahari yang menyengat dan padatnya lalu lintas SCENE 5 DIPINGGIR JALAN RAYA CAST Gilang dan Didin seorang juru parkir Gilang berhenti di pinggir jalan, dia terlihat begitu kelelahan dan kebingungan, lalu Gilang mendekati seorang juru parkir [DIALOG] Gilang Maaf pak, kalo toko kue Lionasari itu dimana ya?saya mau membeli kue buat ibu saya dengan logat polos khas anak-anak Juru parkir Adek mau ke toko Lionasari? itu didepan yang ada mobil warna merah muda, itu Lionasari dek, toko kue paling enak di kota ini sambil menunjuk ke lokasi toko kue Gilang Terima kasih pak Juru parkir sama-sama adek kecil SCENE 6 DIDEPAN TOKO KUE LIONASARI CAST Gilang, Hendro Satpam 1, Deden Satpam 2 Gilang menuju pelataran parkir toko kue lionasari dan kemudian datang hendro dan deden kedua satpam dari toko lionasari. [DIALOG] Hendro satpam 1 adek ini mau ngapain? disini bukan tempat main dek Gilang dengan wajah lelah dan ekpresi ketakutan Maaf pak, saya mau beli kue buat ibu saya Deden satpam 2 loh, memangnya kamu bawa uang berapa mau beli kue disini? disini kuenya mahal-mahal dek celetuknya SCENE 7 DI DEPAN TOKO KUE LIONASARI CAST Gilang, Hendrosatpam 1, Deden satpam 2 dan Liona sari pemilik toko kue Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke parkiran dan keluar Liona sari sang pemilik toko kue dari mobil tersebut, melihat seorang anak kecil dengan kedua satpam, liona akhirnya mendekati mereka. [DIALOG] Lionasari ada apa ini? kenapa dengan adik kecil ini? Hendro satpam 1 ini bu, anak ini tiba-tiba saja nyelonong masuk ke toko dengan sepedanya, jadi kita minta dia pergi Lionasari adik kecil siapa namanya? dan ada perlu apa datang kesini? apa adik mau membeli kue? disini enak-enak loh dik Gilang nama saya Gilang, bu...., iya saya mau beli kue disini, kata orang-orang di kampung saya, kue disini paling enak, saya mau kasih sepotong kue buat ibu saya Lionasari loh, memangnya adik datang darimana? Gilang saya dari desa widaya mukti bu Lionasari hah??? dengan ekspresi kaget, adik datang kesini dari widaya mukti pakai sepeda? itu kan jaraknya jauh sekali dik Gilang iya bu, saya kesini mau beli kue untuk ibu saya dirumah, kan dia lagi sakit sudah seminggu tidak bisa bangun dari tempat tidur, jadi saya mau ngasih ibu saya kue yang enak dari toko ini, katanya kan kue disini enak-enak ya bu dengan ekspresi polos seorang anak kecil Lionasari dengan mata yang mulai berkaca-kaca memangnya ibu kamu sakit apa dik? Gilang saya ngga ngerti bu, tapi ibu bilangnya hanya pusing aja Lionasari sambil mengusap air matanya, yasudah kalau begitu adik ikut ya kedalam, nanti adik pilih aja kue yang mau adik kasih buat ibu SCENE 8 DIDALAM TOKO KUE LIONASARI CAST Gilang dan Lionasari pemilik toko kue Lionasari meminta gilang untuk memilih kue yang ada didalam etalase tokonya, dan tak lama kemudian gilang mendatangi Lionasari dengan membawa sepotong kue dengan tag harga yang ada di kue tersebut tertera Lalu gilang merogoh kantong sakunya dan mengeluarkan uang recehnya yang semuanya hanya berjumlah rupiah. [DIALOG] Gilang Bu, apa uang saya itu cukup untuk membeli kue ini? Lionasari sembari tersenyum Gilang...., kalau kamu mau kue ini, mbak liona akan kasih kamu kue yang utuh, bukan sepotong, dan itu gratis buat gilang. Gilang ah ngga bu, Gilang kan kesini mau membeli kue untuk ibu, dan ini semua uang hasil tabungan gilang, gilang sayang sama ibu gilang, dan gilang mau bikin ibu senang dan sehat lagi kaya dulu. dengan ekspresi polos anak-anak Lionasari lionasari tak bisa menahan lagi tangis harunya, dia meneteskan air mata lalu terdiam sejenak Gilang ibu kok nangis? uang gilang kurang ya bu? kalo uang gilang kurang, ya ngga apa-apa?nanti gilang kesini lagi kalo uangnya sudah cukup Lionasari ngga kok, uang gilang cukup, malah kelebihan nih uangnya sembari mengembalikan satu koin 100 perak ke tangan gilang Tapi, karena hari ini hari yang spesial, jadi karena gilang udah beli sepotong kue, maka akan mendapat gratis satu kue lagi yang ukuran besar Gilang waaaaaah....asssyyikkkk berarti nanti dirumah ibu gilang bisa makan kue yang banyak nih sembari tersenyum lega dan terlihat gembira SCENE 9 DIDALAM TOKO KUE Closing Lionasari menatap sepotong kue yang dipegang oleh Gilang, dan kemudian dia memandangi foto mendiang ibunya yang berada di salah satu sudut dinding toko kue tersebut. FADE OUT CREDIT TITLE.
vFVrCGH.